Trip Akhir Pekan Ke Malioboro | Storybank

Trip Akhir Pekan Ke Malioboro

0
29
Akhir pekan di penghujung bulan Februari lalu, saya melakukan perjalanan ke Kota Yogyakarta untuk menyelesaikan pekerjaan. Rencananya setelah itu, kami hanya ingin menikmati suasana Yogyakarta menjelang senja dengan menyusuri wisata sejarah yang ada di sepanjang Malioboro. Tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 21.54 WIB, selanjutnya kami segera menuju POP Hotel di Jalan Gendekan Lor No.92, Malioboro untuk tempat bermalam. Hotel ini kami dapatkan dari berselancar di aplikasi.  Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan, kami menyusuri kawasan Malioboro sekitar pukul 16.00 WIB. Dimulai dari Stasiun Tugu Yogyakarta, bangunan ini termasuk ke dalam cagar budaya yang dikelola PT. KAI. Menurut sejarah, Stasiun Tugu dibangun oleh pemerintah Belanda tahun 1887 dengan rute Yogyakarta-Cilacap. Secara arsitektur, bangunan berstruktur dinding tanpa atap hanya dinaungi tiang-tiang yang terbuat dari baja. Dengan bukaan pintu dan jendela yang besar, ciri art deco bangunan abad 19 semakin terlihat di sini. Dari Stasiun Tugu kami menyeberang jalan menuju gedung DPRD Yogyakarta. Terletak di Jalan Malioboro No.54. Menurut sejarah, gedung ini dahulu bernama Loge Mataram artinya gedung besar. Didirikan tahun 1870, inilah pusat kerajaan pewaris trah Mataram. Sewaktu Yogyakarta menjadi ibu kota Negara Republik Indonesia tahun 1946, digunakan pula sebagai Gedung Dewan Perwakilan Daerah hingga saat ini. Di halaman depan terdapat patung Jendral Besar Soedirman yang kabarnya dipahat semasa beliau masih ada sehingga terdapat kemiripan dengan perawakan aslinya. Setelahnya, kami menyusuri Malioboro menuju Taman Kepatihan. Taman terbuka ini merupakan salah satu akses pintu masuk kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Dapat dikategorikan sebagai taman tematik karena ada pemasangan cermim dengan lensa cembung dan cekung, dihiasi dengan hamparan tanaman perdu dan bunga serta pepohonan juga dilengkapi dengan bangku taman serta ornamen bayangan lampu hias menjadikannya taman yang menarik untuk objek foto di sore hari. Kemudian kami berjalan menuju titik nol kilometer Yogyakarta. Tempat ini berada di penghujung perempatan benteng di Jalan Malioboro. Di petunjuk arah kami melihat beberapa bangunan bersejarah seperti Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Gedung Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia dan Gedung Bank BNI. Benteng Vredeburg dibangun tahun 1760 atas permintaan Sultan Hamengkubuwono I. Benteng ini dimaksudkan sebagai benteng perdamaian dan saat ini benteng ini dijadikan sebagai galeri seni dan menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Gedung Agung. Gedung Agung selesai dibangun pada tahun 1832, gedung ini dipakai sebagai tempat tinggal para residen Gubernur Belanda di Yogyakarta. Ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, gedung ini menjadi kediaman Presiden Soekarno. Hingga saat ini Gedung Agung menjadi salah satu Istana Kepresidenan di Indonesia yang berada di luar Jakarta. Titik nol kilometer adalah titik yang menjadi patokan penentuan jarak antarh di Yogyakarta dengan kota lain diluar daeraYogyakarta. Letak titik ini antara alun-alun utara hingga Ngajeman di ujung selatan Jalan Malioboro. Kawasan titik nol kilometer diapit beberapa bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang disebut Loji. Selain itu tepat di depan titik nol kolimeter terdapat area Monumen Serangan Umum Satu Maret. Biasanya masyarakat memanfaatkan area terbuka ini menjadi tempat konser musik sederhana dengan memainkan alat musik tradisional. Kantor Pos dibangun pada tahun 1912 oleh Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Sejak awal berdiri hingga saat ini gedung ini hanya diperuntukkan sebagai kantor pos tempat berkirim lalu lintas berita melalui media kertas. Kondisi bangunan dengan gaya arsitektur Indische Empire Style dari abad 18 tergolong kedalam arsitektur transisi dan masih terawat dengan baik. Untuk bangunan Gedung Bank Indonesia mempunyai ciri khas arsitektur bergaya Neo Renaissance yang terletak tidak jauh dari Gedung Kantor Pos Indonesia. Gedung ini dibangun pada tahun 1879 oleh biro arsitek Belanda. Setelah beberapa kali berganti peruntukkan sejak zaman penjajahan, akhirnya gedung ini menjadi bagian dari program konservasi bangunan sejarah yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan saat ini difungsikan debagai museum dan cyber library kantor Bank Indonesia. Seusai menyusuri Malioboro hari telah menjelang malam. Dan kami bergegas mencari kuliner untuk santap malam yang banyak disajikan di sepanjang tepi Malioboro. Sebagai saran, untuk wisata sejarah dengan menjelajah Malioboro agar nyaman sebaiknya memilih hari selain akhir pekan. Karena suasana cenderung tidak terlalu ramai dan dapat berjalan santai tanpa harus berdesakan dengan lalu lalang pejalan kaki. Demikianlah pengalaman wisata sejarah di Malioboro. Tertarik untuk mencoba?

LEAVE A REPLY